Kamis, 03 Mei 2018

Insiden Teluk Balikpapan, HMI Gelar Dialog bersama Pertamina dan Kementerian LHK

Diskusi terbuka oleh Badan Koordinasi Nasional Lembaga Pariwisata dan Pecinta Alam Mahasiswa Islam (BAKORNAS LEPPAMI) PB HMI, Selasa (24/04/2018)/SINERGIA 

JAKARTA - SINERGIANEWS-
Badan Koordinasi Nasional Lembaga Pariwisata dan Pecinta Alam Mahasiswa Islam (BAKORNAS LEPPAMI) PB HMI mengadakan diskusi terbuka perihal bencana ekologi Teluk Balikpapan, Selasa (24/04/2018).
Acara tersebut mengundang narasumber para pemangku kepentingan yang secara langsung bersinggungan dengan bencana ekologi tumpah minyak di Teluk Balikpapan, yakni antara lain Direktur Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut  Ir. Dida Migfar Ridha yang mewakili Direktorat Jendral Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (Ditjen PPKL KLHK RI).
Kemudian, hadir juga Abraham Lagaligo yang mewakili PT.PERTAMINA (Persero). Diskusi ini dihadiri puluhan peserta yang terdiri dari Kader-kader HMI, PMII, serta para mahasiswa pecinta alam seperti Anggota MAPALA Universitas Indonesia, dan Perwakilan Pusat Koordinasi Nasional Mahasiswa Pecinta Alam.
Membuka diskusi, Direktur Eksekutif BAKORNAS LEPPAMI PB HMI, Ichwan Abdillah, menyampaikan bahwa kasus itu sebagai Enviromental Crime yang disebabkan oleh kelalaian manusia (Human Eror).
“Maka harus ada penindakan yang tegas, kemudian harus ada langkah-langkah strategis maupun taktis dalam Penanggulangan bencana serta pemulihan kerusakan kawasan terdampak sebagai hal utama yang harus diperhatikan,” kata Ichwan melalui siaran persnya.
Pada kesempatan itu, Dida Migfar Ridha menyajikan hasil-hasil laboratorium, data-data, dan temuan terbaru dari kawasan terdampak. Dalam hasil laboratorium itu memang sangat jelas zat yang memenuhi Teluk Balikpapan adalah minyak mentah yang sangat berbahaya bagi ekosistem biota pesisir dan laut.
Menurut Dida, tim dari KLHK RI yang dibentuk langsung oleh Ditjen PPKL sudah berada di Lokasi terdampak sekitar 7 jam setelah kejadian. Tim tersebut langsung mengambil Sempel air serta menyebarkan informasi terkait bencana kepada masyarakat sekitar sebagai pencegahan mengkonsumsi hasil laut dari kawasan terdampak.
“Sesuai keterangannya sebaran minyak mentah yang awalnya (10 hari setelah kejadian) seluas 7000 m² sudah meluas hingga hampir 13.000 m² (per tanggal 19 April 2018) dan telah memakan korban jiwa manusia maupun fauna yang hidup di Teluk Balikpapan serta Kawasan Hutan Mangrove,” terang dia.
PT. PERTAMINA juga memaparkan segala hal yang telah dan akan dilakukan dalam penanggulangan dan pemulihan kawasan terdampak. Dalam pemaparannya. Dalam keterangannya, PT. PERTAMINA telah memberikan sebagian kompensasi bagi korban jiwa sebagai langkah awal.
“Dalam penanggulangan kawasan PT.PERTAMINA akan secepatnya melakukan penghisapan minyak mentah dari Teluk Balikpapan. Sebagai pemilik minyak mentah yang tumpah, PT PERTAMINA juga menyatakan siap bertanggung jawab penuh dalam penanggulangan dan pemulihan kawasan terdampakj,” sebut Abraham.
Peserta diskusi, Milzam Sidqi, Anggota MAPALA UI, menyampaikan rekomendasi kepada PT. PERTAMINA. Menurut dia, mengintegrasikan "Early Warning System" diseluruh pipa bawah laut milik Pertamina. Hal ini bertujuan kejadian serupa dapat dilakukan penanganan cepat dan tanggap.
Lembaga Ekonomi (LEMI) PB HMI  juga mengingatkan kepada seluruh pihak terkait perekonomian nelayan teluk Balikpapan yang hari ini tidak diperbolehkan melaut. Karena itu, pelatihan kewirausahaan dan modal usaha kepada para nelayan di pesisir teluk Balikpapan mendesak dilakukan.
Bidang Litbang BAKORNAS LEPPAMI PB HMI, Setyo Nugroho, berharap berkomitmen dalam mememulihkan kawasan tersebut hingga benar benar tuntas. Dengan mengedukasi masyarakat dalam hal konservasi lingkungan serta pembekalan terkait pemulihan bencana lingkungan.
“Karena disadari bahwa pemulihan ribuan hektar kawasan terdampak tidaklah mudah pasti memakan waktu yang cukup lama, maka dianggap perlu peran konkrit masyarakat dalam pemulihan kawasan,” kata Setyo.
Menurut Ichwan, diskusi itu adalah awalan gerakan LEPPAMI secara nasional terhadap kasus di Kalimantan Timur. Menurutnya, bencana ekologi berkelas internasional akan terus dikawal terkait pemulihan kawasan terdampak di teluk Balikpapan.
Ediotor: Ikhsan Muas

Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: