Senin, 19 Februari 2018

Penanaman Sikap Toleransi Dalam Kehidupan Bernegara


Raiza saat memberikan sambutan pada acara Pelantian Pengurus HMI Komisariat Janabadra Cabang Yogyakarta (Foto: sinergianews.com/Dokumen Istimewa)

Kita hidup dalam sebuah negara yang penuh akan keragaman agama, suku, ras dan budaya. Dengan adanya keragaman tersebut tentu kita tidak akan luput dari sebuah perbedaan. Meski kita berbeda agama, suku, dan budaya bukan berarti kita tidak bisa bersatu. Untuk mempersatukan perbedaan diantara kita, perlu adanya usaha yang maksimal, salah satunya dengan bertoleransi terhadap sesama manusia.

Banyak cara mengembangkan sikap toleransi, yaitu menghargai pendapat orang lain, saling menjaga satu sama lain, membantu saat sedang kesusahan, tidak membeda bedakan suku, agama, ras, budaya dan memiliki sikap peduli, sikap jujur, sikap adil, serta memahami bahwa perbedaan itu indah. Jika kita memahami dan meresapi hal tersebut. toleransi adalah cara bagaimana untuk tetap menjaga perdamaian di negara ini.

Namun akhir-akhir ini sering terjadi sikap intoleran yang dilakukan oleh individu maupun kelompok/golongan tertentu. Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan kurangnya memahami nilai - nilai pluralisme yang ada di Indonesia. Keanekaragaman itu indah, bila kita menyadari dan mensyukuri setiap perbedaan yang ada dan menjadikan perbedaan itu sebagai warna kehidupan. Seperti halnya pelangi yang terdiri dari warna-warna yang berbeda namun menyatu untuk memancarkan keindahan.

Perlunya pemahaman yang serius akan tentang indahya perbedaan, karena banyak yang belum memahami betul tentang perbedaan itu seperti apa, contoh kecil seperti perbedaan pendapat yang bisa membuat perselisihan yang seharusnya tidak terjadi. Namun, karena sikap ingin selalu benar, maka perselisihan tersebut bisa terjadi. Dengan merefleksikan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, yang kita ketahui sebagai “Falsafah Negara”. Di dalam Pancasila pada sila ketiga, yang berbunyi “Persatuan Indonesia” itupun dapat memantik kita untuk tetap menjaga persatuan.

Presiden Sukarno pernah menyampaikan pidatonya tentang persatuan dan kesatuan, yang berbunyi “Negara Republik Indonesia ini bukan milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu suku, bukan milik suatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke”. Bukan hanya gigitan jari beratnya perjuangan pahlawan terdahulu, yang berusaha mendapatkan kemerdekaan negara ini serta tetap menjaga persatuan demi berlangsungnya kemerdekaan Indonesia.

Kita perlu memahami bahwa persatuan tidak mungkin terwujud begitu saja. Banyak faktor yang membuat persatuan tersebut bisa terwujudkan hingga saat ini. Salah satunya saling menghargai. Sebagai warga negara yang baik, sebaiknya tidak membeda - bedakan warga satu dengan warga lainnya. Langkah selanjutnya, kita sebagai warga negara yang baik, kita harus tetap mempertahankan persatuan negara ini, serta tetap menjaga toleransi dalam setiap perbedaan yang ada dihadapan kita. Semua harus dimulai dari diri sendiri, lalu akan diikuti oleh yang lain.

Sudah banyak kejadian intoleran yang terjadi, dan seharusnya itu sudah cukup membuat kita semua sadar untuk menghentikan perilaku tersebut. Pemerintah harusnya mulai mengambil sikap untuk bagaimana membuat negara ini dalam keadaan tenang dan aman, tanpa adanya tindakan-tindakan atau kejadian-kejadian intoleran yang terjadi di setiap sudut negara ini. Pemerintah yang menjadi “social control of society haruslah bisa mewujudkan nilai-nilai yang termaktub pada sila ketiga dalam pancasila.

Selanjutnya bagaimana peran pemerintah dalam menyikapi hal-hal tersebut, dan peran masyarakat dalam bekerja sama untuk meminimalisir intoleransi yang akan banyak menimbulkan perselisihan. Semua harus segera dilakukan, karena dampak dari intoleran sangat membahayakan kestabilan dan kedamaian dalam kehidupan bernegara. Semoga  kejadian-kejadian intoleran yang telah terjadi, dapat menyadarkan kita semua, bahwa hidup ini indah bila kita semua saling menghargai antar satu sama lain.

Raiza Rana Viola Riady
Kader HMI Komisariat Janabadra Cabang Yogyakarta, sekarang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: