Senin, 05 Februari 2018

Konsep Kitab Suci pada Novel Alkudus

Buku Alkudus/Doc.Sinergia
Judul              : Alkudus
Penulis          : Asef Saeful Anwar
Penerbit         : Basabasi
Terbit              : April 2017
Tebal              : 268 halaman
ISBN               : 978-602-61160-0-0

Al-qur’an dan kitab suci lain disebut sebut sebagai karya sastra paling sempurna, dengan menggunakan bahasa yang dianggap indah. Juga keberadaanya yang selalu ditempatkan lebih tinggi dari pada buku lain. Bila membaca kata “Alkudus” bisa jadi dikonotasikan sebagai kitab suci yang harus ditinggikan derajatnya dibanding bacaan lain.  Dalam kamus besar bahasa Indonesia kudus berarti murni atau suci, sesuatu yang dianggap suci. Namun Asef Saeful Anwar mencoba menuangkan ramuan baru dalam jenis tulisannya. Alkudus, novel karya Asef Saeful Anwar.

Asef mencoba menuangkan gaya bahasa laiknya kitab suci dalam novelnya. Dari cover dan judul sangat mencolok seperti sungguhan kitab suci. Halaman pertama hanya berisi tulisan “ha ba sin ro ya” pada sisi bawah halaman, entah apa maksudnya. Di halaman selanjutnya terdapat tulisan yang meminta pembaca bersuci terlebih dahulu sebelum mulai membaca novel tersebut, totalitas si penulis memposiskan novelnya bak kitab suci. Konsistensi penggunaan bahasa ia dukung pula dengan adanya ayat-ayat, perawian, sabda, dan periwayatan dalam Alkudus.

Halaman berikutnya adalah daftar isi, dibuat sedetail mungkin serupa karya tulis ilmiah. Banyak bab, banyak tokoh serta banyak cerita yang ditampilkan dengan berbagai sudut pandang. Asef membantu para pembaca dengan menampilkan silsilah keturunan rasul agama Kaib pada halaman 9.Terdapat kemiripan dengan kandungan Al-Qur’an namun Asef menyuguhkan dalam gaya berceritanya sendiri. Pembawaan novel dengan gaya bercerita laiknya tafsir kitab, tak seperti novel pada umumnya yang dirasa para pembaca lebih ringan untuk dicerna, Asef benar-benar membebaskan imajinasinya. Entah ada ketakutan atau tidak bila suatu saat novelnya dituduh sebagai novel SARA.

Terdapat konflik, percintaan, persaudaraan hingga pembunuhan dalam novel Alkudus. Catatan kaki membantu para pembaca agar lebih memahami istilah-istilah yang diciptakan Asef dalam novelnya. Dama dan Waha adalah manusia pertama yang diciptakan dan diturunkan dari langit ke bumi. Diciptakan dari tanah negeri yang sama yakni negeri Wawut, Dama dan Waha diturunkan di bumi secara terpisah, mereka saling mencari satu sama lain. Sebelum akhirnya bertemu dan beranak pinak, membuat populasi dan peradaban manusia di muka bumi. 

Namun hadir pula iblis yang berbentuk angin, membisikan niat-niat jahat kepada anak-anak Dama dan Waha hingga terjadi perselisihan, kebencian bahkan pertumpahan darah antar saudara. Nama tokoh yang sering disebut, “Dama dan Waha” bila kata tersebut dibolak-balik mirip dengan nama manusia pertama yang diciptakan dan diterangkan dalam Al-Qur’an yaitu Adam dan Hawa. Cerita turunnya Dama dan Waha ke bumi ini mirip dengan Adam dan Hawa yang akhirnya diturunkan ke bumi karena memakan buah Kuldi di surga. Laiknya Adam dan Hawa, Dama dan Waha pun diturunkan secara terpisah ke bumi dengan jarak cukup jauh.

Pada halaman 45 dijelaskan tentang larangan memakan makanan yang menghilangkan akal. Pada catatan kaki “Sebagaimana diriwayatka Bakijah, Erelah Sang Utusan menerangkan makna ayat ini dengan sabdanya yang ke-702: Sesungguhnya makanan dan minuman yang menghilangkan akalmu bukan hanya yang dapat memabukkanmu, tapi juga segala makanan dan minuman yang engkau dapatkan dengan menghilangkan akalmu.” Kutipan pada halaman ini mirip dengan Qur’an surat Al-Maidah ayat 90 : “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya meminum khamar (minuman memabukkan), berjudi, berkurban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan.

Terdapat sedikit kesamaan, yakni sama-sama membahas minuman memabukkan. Pada halaman 34 ayat 56 mirip dengan Qur’an surat Yasin ayat 82, tentang begitu mudahnya Tuhan menciptakan sesuatu. Pada halaman 82 ayat 23-28 mirip dengan Qur’an surat Ar-rum ayat 21, tentang perintah menikah. Halaman 200 yang berjudul Larangan Bersikap Munafik ini pun mirip dengan Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 204 tentang kemunafikan. Memang sengaja menyamakan untuk menyempurnakan konsep kitab suci pada novelnya atau bagaimana, hanya Asef yang tahu.

Tidak terdapat alinea dari kesuluran isi buku, percakapan antar tokoh dituliskan sebagai sabda, laiknya kitab suci pada umumnya. Tokoh yang digunakan adalah Tuhan, Nabi, malaikat, setan, Rasul dan para keturunan Rasul yang diciptakan oleh Asef. Banyak sekali tokoh yang dituangkan Asef pada novelnya.

Penulis lain yang menampilkan banyak tokoh dalam bukunya adalah Y. Agusta Akhir. Menjadi kelebihan Asef yang konsisten dengan begitu banyaknya tokoh. Seperti cuplikan pada halaman 108 ayat 34 “Yahmur adalah anaknya Lekhta anaknya Wasmed anaknya Lokat anaknya Keliat anaknya Riwama anaknya Nabasy anaknya Lehti anaknya Hujut anaknya Sittah anaknya Husah anaknya Filom anaknya Baikya anaknya Sana yang dikawinkan dengan Sibda yang lahir dari rahim Esimar anaknya Dama dan Waha.” Hal serupa juga terdapat pada halaman 144.

Akan menemukan tokoh baru di tiap judulnya. Yang awalnya hanya Dama dan Waha, akan bermunculan tokoh lain yakni anak-anak Dama dan Waha yang akhirnya saling menikah dan mempunyai anak lagi, begitu seterusnya. Bisa jadi antara pembaca satu dan pembaca lain menemukan tokoh utama yang berbeda. Dama dan Waha dibunuh oleh penulis pada judul Kematian Dama dan Waha halaman 64. Terlalu dini bila tokoh utama mati diawal cerita. Bisa jadi Dama dan Waha bukan sebagai tokoh utamanya.  Dari silsilah keturunan Rasul agama Kaib, tokoh terakhir adalah Erelah.

Novel Alkudus menceritakan awal terbentuknya bumi seisinya hingga akhir jaman, bisa pula diklasifikasikan sebagai roman pendek. Konsep penokohan menjadi sisi unik dalam novel yang ditulis Asef pun juga deskripsi latar yang konsisten. Diksi ringan dengan gaya penulisan adopsian kitab suci, menjadikan Alkudus sebagai prosa berkarakter kuat.

Cerita-cerita yang ditampilkan menarik, seperti ajaran dharma agama Kaib, perintah sunat, pembunuhan antar saudara, kecemburuan dalam rumah tangga,tentang sembilan malaikat yang wajib dipahami oleh pemeluk agama Kaib dan cerita menarik lain. Asef menyuguhkannya sangat detail, dan membuat banyak catatan kaki untuk membantu pembaca. Dari sisi eksperimental, Asef cukup bereksperimen dengan Alkudus. Meski dari ide cerita banyak mengadopsi kandungan isi Al-Qur’an.

Oleh Friliya
Anggota klub buku Basabasi Jogjakarta
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: