Minggu, 14 Januari 2018

Lulusan Pendidikan Agama, Jadi Apa?

Doc.Net

Diskursus tentang peluang dan tantangan sarjana pendidikan agama memang menjadi concern banyak pemerhati. Seolah-olah, bahasan debateble ini selain sebagai fokus analisis studi akademik, ia bahkan cenderung menjadi titik-balik atas realitas paradoksal: memaknai prinsip agama sebagai gerakan ikhlas dan luhur budi, atau memasukkan nilai agama yang transenden menjadi profan dan duniawi.

Kedua terma di atas, pelan tapi pasti, menyihir perhatian banyak kalangan untuk meredefinisi apa sebenarnya maksud dari pendidikan agama, dan sebab ia banyak bersinggungan dengan dimensi akademik, bagaimana metodologi dan konsep ilmiahnya?

Pertanyaan semacam ini mesti kembali mengorek historisitas dan geneologi lahirnya pendidikan agama. Sebab memang, pendidikan agama bukan varian pendidikan yang kering sejarah, tapi bahkan sarat dengan landasan normatif sosial-budaya masyarakat.

Juntrung pendidikan agama lahir sebagai purifikasi atas berjibun praktik amoral yang banyak terjadi di ruang publik (public spare). Pendidikan agama dipercaya menjadi suluh bagi gulitanya sistem pendidikan nasional yang cenderung kapitalis-materialistik. Dengan claim penawaran tentang konsep moralitas dan agamis, pendidikan agama dipercaya dapat menyulap anak didik untuk kembali mereguk konsistensi (istiqamah) di jalan yang lurus (as-sirat al-mustaqim).

Muslim kaffah dan konsepsi insan kamil memang menjadi titik-labuh pendidikan agama. Substansinya, pendidikan agama—sebagaimana disebutkan Abdul Rachman Shaleh—adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, agar meyakini, memahami, menghayati, dan meangamalkan agama Islam melalui kegiatan, bimbingan, pengajaran, dan latihan.

Pada konteks ini, ajaran agama coba ditafsir melalui interpretasi-aksiologis yang tidak hanya mengandalkan ilmu (epistimologi) tetapi juga amal (aksiologi).

Namun begitu, pergeseran paradigma (sift paradigm) yang melumpuhkan pendidikan agama kini tampak kentara dan nyata. Praktik amoral dan aksi-aksi teror bahkan masih cukup masif dan terus berdiaspora dalam ruang-ruang sosial-budaya di tengah suburnya pendidikan agama di Indonesia.

Lulusan-lulusan PTAI justru menjadi sarjana kaku yang sebagian besar tidak mampu bersaing dalam kancah kerja sektor nasional, apalagi internasional. Marjinalisasi materi-materi agama di sekolah dan masyarakat menjadi bukti konkret minimnya aspirasi publik terhadap urgensitas pendidikan agama.

Mengubah Postulat

Tantangan paling mendasar lulusan pendidikan agama sebenarnya terletak pada konstruksi idieologis yang secara gradual menjangkiti sejak sekian lamanya: konsep ikhlas dan barokah. Sektor kerja riil dipahami sebagai agenda pendidikan pragmatis yang bahkan menihilkan keikhlsan dan kebarokahan.

Sebagaimana paham primordialis, merka bahkan menolak terhadap perkembangan dan penetrasi zaman, bersikap acuh terhadap modernitas, dan menganggap setan terhadap informasi dan tekhnologi.

Pada tahap inilah, kesadaran tentang pentingnya membuka mata terhadap modernitas harus kembali didengungkan, betapa pun hal itu menjadi pekerjaan yang sulit dan memakan waktu.

Setidaknya, supaya nilai-nilai agama tidak sekadar menjadi pelengkap teori etika dan komodi omong banyak orang, penting kiranya menlanjutkann apa yang disebut Kuntowijoyo—sebagaimana juga pernah ditulis Yudi Latif—sebagai “pengakaran” (radikalisasi).

Mengubah postulat sempit tentang agama melalui proses radikalisasi harus melibatkan tiga tahap: Pertama, radikalisasi mencakup dimensi keyakinan (mitos), yaitu proses mengukuhkan kembali dasar agama sebagai bagian dari proses pemanusiaan tidak hanya dari hal-hal agamis tetapi juga duniawi.
Kedua, radikalisasi mencakup dimensi penalaran (logos), yaitu pengembangkan kerangka agama dari ideologi menjadi ilmu. Penalaran ini juga bermaksud untuk tidak menjadikan asas agama sebagai asas eksklusif dan final, tapi terbuka untuk kemungkinan diperbarui.
Ketiga, radikalisasi mencakup dimensi kerja-juang (etos), yaitu kerja-juang semua elemen agama untuk meyakini konsistensi berketuhanan dengan dengan realitas keummatan.
Mengurai yang Tergerai

Jumudnya masyarakat yang memilih PTAIS, STAIN, IAIN, UIN, daripada PTN dan PTS non-agama menjadi fenomena unik yang mesti diurai. Interes mereka cendererung menganggap pendidikan berlatar agama terlalu eksklusif dan tertutup. Padahal, gempuran modernitas yang ditandai dengan superioritas tekhnologi modern, seperti televisi dan internet, menuntut setiap orang untuk menggauli sektor pasar modern yang bebas dan terbuka.

Prospek lulusan PTAI harus kembali diuji konkresitasnya. Profesionalisme lulusan PTAI menjadi keharusan, selain juga upaya untuk reorientasi PTAI untuk tidak hanya akomodatif, tetapi aktif dan kreatif merespon perubahan sektor pasar kerja.

Secara esensial, profesionalisme di sini mencakup bebrapa variabel: (1) kemampuan tenaga akademik yang handal dalam pemikiran, penelitian,  dan berbagai aktivitas ilmiah, (2) kemampuan tradisi akademik yang mendorong lahirnya kewibawaan akademik bagi seluruh civitas akademika, (3) kemampuan manajemen yang kokoh dan mampu menggerakkan seluruh potensi untuk mengembangkan kreativitas warga kampus, (4) kemampuan antisipatif masa depan dan bersikap proaktif, (5) kemampuan pimpinan mengakomodasikan seluruh potensi yang dimiliki menjadi kekuatan penggerak lembaga secara menyeluruh, dan (6) kemampuan pimpinan dan dosen untuk memberikan bekal profesionalisem dan kemandirian kepada mahasiswa (Agus Maimun, 2013).

Tentu saja, sektor pasar kerja memiliki andil berharga atas jaminan mutu pendidikan. Menurut Tillar (1994), persaingan lapangan kerja bagi lulusan perguruan tinggi menjadi bergaining atas kualitas perguruan tinggi tersebut.

Minat bayak orang terhadap opsi perguruan tinggi terutama sekali memang ditentukan oleh banyaknya out put yang ‘siap pakai’ di pasar kerja. Maka, membekali sarjana pendidikan agama dengan beragam keterampilan yang tidak hanya bersifat agamis tetapi juga profan kini justru menjadi keharusan.

Selama ini, sarjana agama (S.Ag, S.Pd.I, S.Ud. SHI, dll) memiliki praksis kerja yang monoton dan berkesan begitu-begitu saja, seperti guru agama, guru ngaji, muballigh dan da’i, penyuluh agama, konsultan hukum agama, pemikir agama.

Dengan inovasi orientasi sistem akademik yang berbeda, sarajana agama juga akan memiliki daya saing untuk memperoleh profesi lain di luar itu. Usaha kreatif sarjana agama dengan mengembangkan kegiatan akademis yang lebih produktif dan memupuk kemandirian akan menopang kualitas diri menjadi pribadi unggul.

Sangat mengecewakan memang, realitas anomalik antara lulusan sarjana agama dan keringnya sektor lapangan kerja. Misalnya, daya tampung Kemenag RI setiap tahun untuk beberapa formasi kurang dari 5000 orang. Padahal di Indonesia ada kurang-lebih 8 UIN 21 IAIN, 34 STAIN dan lebih dari 700 PTAIS yang diperkirakan setiap tahun menghasilkan lulusan tidak kurang dari 30.000 mahasiswa.

Dengan demikian yang bisa diserap hanya sekitar 17 persen dari jumlah lulusan, sehingga 83 %  tidak tertampung. Belum lagi ditambah lulusan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan untuk tahun ini, ketika semua sector pendidikan formal sudah terisi, beberapa kementerian telah menerapkan zero growth, sehingga kemungkinan tidak akan ada pengangkatan pegawai lagi (Agus Maimun, 2013).

Sebebnarnya, banyak sekali peluang kerja bagi sarjana agama yang memiliki prinsip kemandirian dan spirit wirausaha. Seperti yang ditulis Rahardjo (1992), ada beberapa profesi alternatif untuk mengisi elit strategis yang perlu dipikirkan dan bisa dipersiapkan oleh PTAI, asal dilakukan secara sungguh-sungguh atau serius, yaitu: (1) negarawan dan politisi, (2) pemimpin masyarakat, (3) ulama atau da’i, (4) intelektual, (5) pengajar, (6) peneliti sosial atau ilmu pasti, (7) berbagai jenis tenaga professional, (8) manajer, (9) seniman-budayawan, (10) wartawan atau publicist.

Hal terpenting sebenarnya, menghilangkan paham sempit tentang klaim agama terhadap dimensi keduniaan tanpa harus membuang nilai-niali moral yang dikandungnya, serta menggalakkan praksis kegiatan kemandirian dan inovasi akademis yang lebih produtif.

Sarjana agama memiliki fungsi ganda: memperbaiki moralitas keummatan dan menyelamatkan sektor profan—seperti ekonomi dan politik—yang berasas kemanusiaan dan egalitarian. Semoga.**

MUCHLAS JAELANI, sering twit di @muchlasjae
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: