Selasa, 09 Januari 2018

JUNGKIR BALIK MEMBACA EKO TRIONO

Buku Eko Triono berjudul Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini/Doc.Teguh Afandi

Judul             : Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini
Penulis          : Eko Triono
Penerbit        : Basabasi
Cetakan        : Desember 2017
Tebal             : 220 Hlm; 14 x 20 cm
ISBN             : 987-602-6651-67-9

Spontan Saya teringat dengan salah satu ceramah Umar Kayam di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada akhir tahun 1970, yang berjudul “Penghayatan Seni dan Eksplorasi Seni; Dua Wajah Dalam Kehidupan Kebudayaan Kita” saat membaca antologi cerpen terbaru Eko Triono (selanjutnya dibaca ET) yang berjudul Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini (2017). Sedikit banyak menyerupai kaidah sastra Indonesia kontemporer yang seharusnya selalu dihayati dan dieksplorasi dengan sungguh-sunguh.

Kira-kira begini pemahaman saya tentang ceramah Umar Kayam itu: dengan mengutip Richard Kostelanetz, bahwa sastra Indonesia kontemporer ialah sastra yang mencoba untuk memahami sifat radikal masa kini, baik dalam bentuk maupun isi, di samping sifat radikal yang menunjukkan hasrat abadi dalam diri manusia dan di dalam warisan sejarah kebudayaan yang terus bergejolak hingga sekarang. Membaca cerpen ET dalam antologi terbarunya, akan dihadapkan dengan eksperimentasi bentuk dan isi dari manusia masa kini.

Sebelum lebih jauh mengupas eksperimen ET, setidaknya kita perlu melihat karya kontemporer pada tahun 1970. Iwan Simatupang, misalnya, dengan novelnya Merahnya Merah, Ziarah, dan Kering serta dramanya yang berjudul Taman, Bulan Bujur Sangkar, atau novel Putu Wijaya yang berjudul  Telegram, dan beberapa drama Arifin C. Noer berjudul Kapai-Kapai dan Sumur Tanpa Dasar. Semua itu menjadi sekelumit bukti—bukan maksud meniadakan bukti lain—yang bisa dijumpai.

Karya-karya tersebut mengandung unsur-unsur radikal yang meninggalkan bentuk atau rupa novel sebelumnya. Tak ayal, Goenawan Mohamad—ulasannya dalam Budaya Jaya, Juni 1974—menegaskan bahwa drama Iwan Simatupang yang berjudul Taman, “menampilkan tragedi bahasa serta macetnya dialog antara manusia seperti yang diwujudkan oleh teater absurd. Selanjutnya dalam dramanya Arifin C. Noer yang berjudul Kapai-Kapai mengandung fatalisme, cermin hidup yang muram dan tak ada penghibur sejati”.

Dalam konteks terminologi cerpen yang jamak dipahami dan banyak dilakukan oleh para penulis, cerpen ET yang berjudul Cerita dalam Satu Kata (hlm. 15), Cerita dalam Banyak Katanya (hlm. 16), dan beberapa cerita lainnya, sejauh pemahaman saya, merupakan suatu dekonstruksi bentuk dan cerita yang tidak bebes ‘ide’ dengan menafikan unsur konvensional lainya seperti tokoh, plot, dan alur. Diakui atau tidak, beberapa cerita di atas merupakan sebuah ‘ide’ yang sengaja ET lakukan untuk mencapai upaya ekperimennya.

Sampai di sini, bisa diteguhkan bahwa inilah upaya ET yang bisa dikategorikan sebagai sastra kontemporer yang patut diapresiasi, meskipun menggugurkan hal lain yang sama-sama penting dalam konteks cerpen secara terminologis. Meskipun upaya ini, menurut saya, hanya berkisar pada bentuk sebuah cerita yang diolah dengan tidak sepi dari gagasan dan kesengajaan. Memang sebatas bentuk, numun bukan berarti menggugurkan nilai eksperimen, ide, juga sebuah pengalaman, dan pemahaman yang mendalam tentang cerpen.

Inilah upaya falsifikasi yang dilakukan ET untuk menjungkirbalikkan kebenaran teori lama yang mungkin dianggap jumud dan kaku. Karena verifikasi terhadap teori lama, adalah upaya yang sama-sama benar adanya. Dengan begitu keduanya sama-sama dapat dibenarkan dan dapat dilakukan. Yang perlu diingat, proses keduanya merupakan dialektika pengetahuan yang harus sepantasnya selalu dilakukan, sebagaimana ET melakukannya.

Dalam cerpen, selain yang disebutkan di atas, misal yang berjudul Cerita Pendek dan Cerita Panjang (hlm. 32), bercerita tentang perdebatan cerita pendek dan cerita panjang dalam ranah historis, posisi, dan peranan yang kemungkinannya tidak akan pernah selesai. Selain itu, perdebatan keduanya berasosiasi dengan perbedaan kelas antara masyarakat borjuis dan proletar, atau Barat dan Timur. Di sinilah realitas penting yang coba dieksplorasi dalam cerpen di atas.

Misal dalam cerpen yang berjudul Cerita Sesuai Selera Pasar (hlm. 53), cerpen ini dibuka dengan pernyataan alegoris yang ambigu: tentang perkembangan sastra mutakhir yang menuntut penulis untuk menyesuaikan dengan selera pasar (koran), tidak pada idealisme seorang penulis; atau tentang praktik politik yang juga dijual sesuai selera pasar demi mencapai tujuannya. Pada titik inilah, sebagaimana penjual cerita yang meyakinkan tokoh ‘aku’, bahwa kontestasi politik bisa dimenangkan siapa saja asal dapat membeli dan menjual cerita (agama, etnis), meskipun mereduksi nilai politik yang semestinya.

Cerita di atas merupakan salah satu cerpen paling panjang yang menarik dalam buku ini. Sejenis otokritik terhadap semua realitas aktual yang kerap mencederai nila-nilai luhur sebuah tatanan yang sudah mapan. Hal ini menjadi catatan penting bahwa ET tidak melulu terjebak pada upaya eksperimental belaka, melainkan ikut andil mengkritisi fenomena sosial yang semakin hari semakin tercemar dan mengenaskan.

Lain lagi dalam cerpen yang berjudul Cerita dalam Riwayat Ceritanya (hlm. 84), ET mengeksplorasi semua peranan manusia, baik penjual jamu, tukang sol sepatu, tukang parkir, penjual bakso, hingga penjual tubuh (pelacur) dalam satu tokoh yang menjadi poros cerita, yaitu prihal kembaran Syekh Saridin. Cerita ini tak ubahnya sebuah bingkai yang bundar dengan segala peranan dalam setiap bentuknya. Dari ketiga cerpen yang saya terka inilah eksperimentasi dalam ‘isi’ cerita, saya tegaskan sebagai upaya yang juga menarik untuk digarisbawahi.

Namun buku setebal 220 halaman ini juga memuat beberapa cerpen yang saya anggap cacat, kecuali sebagai pelengkap dari berbagai upaya eksperimentasinya. Tentu, istilah cacat itu saya sejajarkan dengan unsur eksperimen yang berupa verifikasi atau pun falsifikasi pada teori, yang mungkin saja, saya juga salah memahaminya. Misal, dalam cerpen Cerita Universal (hlm. 82), Cerita dalam Pertemuan Kita (hlm. 13), Cerita Remaja (48), dan Cerita Pesan Moral (49). Pembaca akan dihadapkan dengan cerpen yang pendek, bisa saja satu paragraf atau dua, dengan bangunan cerita yang pincang. Atau bisa dikatakan, upaya ekperimentasi yang nanggung.

Barangkali, yang saya anggap cacat di atas, adalah apa yang dikatakan Anton Kurnia sebagai metafiksi. Seperti kumpulan cerita tentang sebuah cerita. “Dengan elemen-elemen metafiksi seperti cerita yang berkisah tentang cerita, keterlibatan tokoh cerita di dalam cerita secara sadar, pemberontakan kerakter cerita, hingga pelibatan pembaca secara aktif untuk memproduksi makna,” tulis Anton Kurnia. Namun pandangan saya dengan Anton Kurnia sama-sama berbasis pada subjektivitas belaka. Kebenarannya mengendap di dalam tempurung kepala pembaca masing-masing.

Dengan begitu, antologi cerpen ini tetaplah penting dibaca siapapun, dengan alasan, bahwa pembaca—dalam cerpen yang berjudul Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini (161), yang kemudian menjadi judul buku ini—akan dihadapkan dengan kredo “kamu sedang membaca tulisan ini. Dan kamu akan mengikuti apa saja yang diminta tulisan ini dari pikiranmu.” Kredo tersebut merupakan gairah pembebasan yang  ditransfer oleh ET kepada pembaca untuk bebas dalam membaca, berimajinasi, dan menafsirkannya.

Dan pada akhirnya, seperti dalam esai ET sendiri di Basabasi, 20 April 2017, bahwa dalam teologi penciptaan berlaku creatio ex nihilo—penciptaan dari ketiadaan—tidaklah dimiliki oleh siapapun, selain Tuhan itu sendiri. Karena manusia (penulis, juga penulis resensi ini) berada dalam kreativitas yang terbatas, atau no creatio ex nihilo—tidak bisa mengada dari ketiadaan sebagaimana Tuhan.

*Muafiqul Khalid MD, pekerja kuli bangunan di Al-Kindi, Krapyak.

Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: