Rabu, 03 Januari 2018

MENYINGKAP SIFAT BAIK DAUN YANG DIABAIKAN

Buku Sifat Baik Daun karya Daruz Armedian/Doc.Sinergia

Judul                : Sifat Baik Daun
Penulis             : Daruz Armedian
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : November 2017
Tebal halaman : 172 hlm
ISBN                : 978-602-6651-39-6

Konon, dewi cinta dari Yunani, Aphrodite, pernah berujar bahwa tidak ada yang lebih indah di dunia ini dibandingkan dengan sekuntum bunga, dan tidak ada yang lebih esensial dari pada tanaman. Percaya atau tidak, rahim sejati kehidupan manusia adalah daun-daun hijau yang menyelimuti bumi; karenanya, manusia bisa bernafas, makan, dan melangsungkan siklus kehidupan.
Daun dalam cerpen Daruz Armedian (selanjutnya dibaca DA), memang bukan satu sub tema yang melatarbelakangi lahirnya ke tiga puluh cerpennya. Hanya saja, jika daun diketengahkan, dan menjadi modus operandi bagi bahasan selanjutnya, tentu akan menjadi sesuatu yang unik dan menarik.
Terlepas, apakah DA sadar atau tidak memberi judul antologi cerpennya dengan Sifat Baik Daun. Bahwa daun merupakan salah satu penyumbang terbesar dari 375 milyar ton makanan yang dikonsumsi manusia. Dengan bekerja sama, matahari, udara, dan tanah daun-daun menyemai menjadi bagian penting bagi kehidupan.
Dalam cerpen yang berjudul Sifat Baik Daun (hlm. 50), menceritakan tentang adanya daun yang bisa berpikir. Daun yang bertanya-tanya makna diri dari keberadaannya. Meski dalam cerpen ini, makna dan arti penting daun belum dieksplorasi dengan utuh, tetapi beberapa kalimat:
Daun baik hati yang telah ikut andil menyejukkan tempat ini, (juga pesan terakhir di akhir cerpennya). Daun ini tahu, tapi ia tidak menghiraukan semua itu. Ia tetap menolong. Bukankah cara menolong itu memang harus tanpa pamrih, tanpa diperlihatkan pada yang lain? Ia akhir-akhir ini berpikir jenius. Sekaligus bijak dan tulus.” (hlm. 55).
Menjadi antitesis dari bangunan ceritanya: seorang remaja yang bermesraan di bawah pohon, di pinggir sungai, dan abai pada semut yang juga pacaran tapi nasib sial yang menimpanya hingga hanya daun yang bisa mengerti dan dapat menolongnya.
Tindakan daun ini seolah selaras dengan pembuktian Charles Darwin—setelah mematahkan tesis Carl Von Linne, bapak botani modern—bahwa setiap sulur tanaman memiliki kekuatan untuk bergerak independen. Dan tanaman memperoleh dan menampakkan kekuatan ini hanya ketika hasilnya bermamfaat baginya.
Bahkan pada permulaan abad ke-20, salah satu ahli biologi berbakat dari Wina, Raoul France mengemukakan gagasan yang mengejutkan para filsuf alam kontemporer. Ia meyakini bahwa tanaman menggerakkan tubuhnya sama bebas, mudah, dan anggunnya dengan manusia atau pun hewan yang terlatih. Satu-satunya alasan, manusia tidak menyadari pergerakannya karena tanaman bergerak lebih lambat dari pada manusia. Dengan begitu, usaha daun menolong semut yang hendak tenggelam dan dihanyut air bukan tidak masuk akal melainkan sejalan dengan sifat baik daun yang kerap diabaikan.
Sepertinya, pesan terakhir dari cerpen Sifat Baik Daun dimaksudkan agar menusia belajar kepada daun yang rela mengorbankan dirinya untuk menyelematkan semut. Semut yang juga lagi kasmaran dengan pasanganya sebagaimana si remaja. Dan jangan salah, semut juga bagian penting dari siklus kehidupan manusia di dunia ini.
Misal juga, dalam cerpen yang berjudul Sepasang Mata Ibu dan Sepasang Mata Bocah Lugu. (hlm. 69). Ceritanya dibangun dengan dua tokoh dan satu tokoh sampingan. Dengan menghadirkan seorang bocah, polos, abai, atau lebih tepatnya tidak mengerti gemuruh hidup; sekaligus ibunya yang digambarkan sebaliknya: sedih, lapar, lemah dan sebatangkara di tengah kota. Yang menarik adalah, pertanyaan-pertanyaan si bocah atau anaknya yang menyoal daun jatuh dan angin yang berhembus, dan jawaban getir ibunya tentang hidup.
“Kenapa daun-daun itu jatuh, Ibu?” Pertanyaan itu diulang dua kali oleh anaknya, ibunya tidak menjawab, hanya menghembuskan nafas berat, hingga pada pertanyaan “Kenapa ada angin yang menerjangnya?” Karena belum ada jawaban, akhirnya, anaknya menyimpulkan bahwa “Berarti angin itu jahat.” Pada pertanyaan ketiga inilah ibunya balik bertanya pada anaknya (di halaman yang sama dengan yang di atas), “Kenapa angin itu jahat?”
Jawaban si anak hanya bisa diukur dengan kepolosanya, bukan pada yang lain, juga tidak pada ranah epistemologis bahwa daun jatuh, “Karena angin yang telah menjatuhkan daun-daun.” Diamnya ibu atas jawaban polos anaknya dapat diartikan setali tiga uang dengan tidak pahamnya penulis akan terminologi daun yang jatuh.
Padahal, posisi tanaman, termasuk daun sebagai bagiannya, setengah abad yang lalu,  France meyakini—memiliki semua sifat makhluk hidup, termasuk juga memilki respon dan reaksi keras terhadap kekerasan dan paling luhur berterimakasih pada anugerah—meski keburu dianggap bid’ah dan hasil risetnya diabaikan. Dengan begitu, daun jatuh bukan semata karena angin, melainkan banyak faktor, bisa saja proses absisi yang barkaitan dengan tingkat kandungan auksin dalam bagian daun yang akan gugur.
Beruntung sekali (dalam cerpen di atas), anak itu terus bertanya, dan pertanyaannya selalu berbasis pada imajinasi—sebagaimana antologi cerpen ini—dari pohon belimbing yang daun-daunya kerap jatuh hingga pohon beringin yang tampak seram.
Seterusnya, temuan-temuan tentang ajaibnya tumbuhan, di akhir tahun 60-an dapat dilacak pada  Marcel Vogel dan Peter Pringsheim dalam bukunya Luminescence in Liquid and Solids and Their Practical Aplication, juga Peter Tompkinn dan Christopher Bird dengan bukunya Secret Life of The Plant. Meski sikap skeptis terhadap tanaman, bahwa ia selayaknya manusia: pun bisa berpikir, berbicara, dan berinteraksi, kerap dijumpai hingga saat ini. Akan tetapi, kebutuhan manusia kepada tumbuhan, daun-daun, buah-buahan, kayu hingga akarnya tidak bisa dipungkiri.
Dengan demikian, antologi cerpen ini menarik karena menjadikan tumbuhan, alam, dan hewan sebagai batu loncatan imajinasi. Bukannya Albert Einstein, dengan lahirnya teori relativitas hanya terinspirasi dari sebuah apel yang jatuh, hingga kemudian dikenal dengan ilmuan besar abad 20. Jangan heran, dengan imajinasi, bagian-bagian cerpen akan menyeret pembaca ke segala ruang dan waktu tanpa disadari. Misal:
“Dan daun ini melihat semua tanpa ada yang terlewat. Ia masih tenang. Memang seperti itulah sifat daun. Tenang dan menyejukkan. Apalagi cerita ini belum menemukan konfliknya. Masih dalam tahap pengenalan.” (hlm. 52). Lanjut pada paragraf selanjutnya, di tengah jalannya cerita. “Sehingga, saya sendiri, sebagai penulis, menyangka anginlah yang marah. Kejadian seperti ini membuat tragedi kecil: daun-daun berguguran (tetapi tidak termasuk daun yang ini) dan sepasang semut romatis jatuh ke dalam sungai yang tenang. Walaupun tenang, ternyata sungai menghanyutkan.”
Maka jelaslah kemudian, bahwa selama cerita belum sampai pada titik konflik, maka penulis selalu punya kesempatan untuk mengolok-ngolok pembaca. Posisi daun, hewan, atau nama-nama penulis (yang dikagumi dan karyanya telah selesai dilahap) kerap juga menjadi seperti sebuah jeda penulis untuk bernafas sejenak, kemudian cerita dan konflik akan mengalir sambil lalu dikuatkan lagi dengan hal yang lain. Sejatinya penting membaca kumpulan cerpen yang ditulis anak muda kelahiran Tuban pada tahun 1996, di tengah gaduh politik identitas dalam segala sektor dan hilangnya imajinasi manusia di hadapan benda-benda modernisme. Setidaknya dapat mengentaskan sikap abai pada tanaman yang semakin menguat dan mengakar.
Untuk melihat lebih jauh, bagaimana imajinasi berperan penting dalam antologi ini—untuk tidak mengatakan semuanya—dapat saya sebutkan beberapa cerpen yang berjudul Dalima Dilema pada Dua Delima (hlm. 99), Alasan Kenapa Membenci Babi (hlm. 33), Diduga Patah Hati, Lelaki Ini Minum Kopi Beserta Cangkirnya (hlm. 86), Mahar Pohon-Pohon (hlm. 132), Tentang Perempuana Tanpa Kata-Kata Atau Pohon yang Ditebang Salah Satu Manusia atau Lelaki yang Tidak Bisa Berbuat Apa-Apa Kecuali Setia (hlm. 153), dan Menceritakan Hujan (hlm. 159).
Imajinasi dalam cerpen-cerpennya merupakan bagian penting yang tidak dinafikan peranannya. Terlepas karena penulis yang masih muda, atau memang kesengajaan dalam menuliskan cerita-cerita dalam antologi pertamanya. Dan kerap akan ditemukan, di tengah cerita, penulis sering menggunakan penulis-penulis idolanya sebagai bahan cibiran, atau malah sebagai penguat atas konflik yang dibangun dalam cerita. Lalu, apakah cerpen yang digubah atas dasar imajinasi merupakan suatu kejelekan atau ketidakberhasilan? Tentu tidak, karena keberhasilan sebuah cerita hanya dapat diukur dengan dapatkah cerita bisa meyakinkan pembaca dan membuat pembaca belajar banyak hal meski yang remeh temeh.
Juga yang menarik, meski penulis masih berusia muda, Sifat Baik Daun akan menawarkan banyak hal, yang mungkin, bagi orang yang sangat fanatik dengan struktur cerpen: plot, tokoh, alur dan konflik; akan dibenturkan dengan yang sebaliknya. Akan ditemukan, misalnya cerpen yang satu lembar dan terkadang, tokoh, alur, dan ceritanya belum benar-benar tuntas tapi sudah berganti dengan judul dengan yang lain. Lain lagi, dalam cerpen yang berjudul Diduga Patah Hati, Lelaki Ini Minum Kopi Beserta Cangkirnya (hlm. 86), pada salah satu paragrafnya, terdiri dari sekumpulan abjad yang seolah seperti main-main tanpa maksud tertentu. Seolah semua abjad dalam kyboard ditekan bersamaan atas dasar kemandekan atau kebuntuan. Tapi jangan salah, di tengan kerumunan abjad, akan ada beberapa umpatan dan nama yang sangaja penulis sisipkan untuk memancing pembaca agar lebih melotot dan bebas berpraduga.
Antologi cerpen ini layaknya disebut sebagai taman bunga atau kebun binatang. Kalian akan dihadapkan dengan berbagai tanaman, hewan, dan cerita imajiner yang ditulis cerpenis yang masih sangat muda. Sangat pantas untuk dibaca di tengah musim hujan, apalagi cover bukunya yang unyu-unyu, seolah semakin meneguhkan bahwa manusia layaknya harus melanjutkan cita-cita luhur Herculian untuk mengembalikan dunia menjadi sebuah taman bunga yang enak atau nyaman ditinggali.*


*Muafiqul Khalid MD, bergiat di kuli bangunan, Al-Kindi Krapyak



Previous Post
Next Post

post written by:

4 komentar:

  1. Balasan
    1. Om Junaidi Khab ditunggu tulisannya di sinergianews yaa..

      Hapus
  2. ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantap Mas Yudik W. Ditunggu juga tulisannya di sinergianews

      Hapus