Senin, 11 Desember 2017

Tafsir Ringan Tentang Keragaman (Sedikit Ulasan Atas Buku Al Makin)

Buku Al-Makin, Doc. Net
“Jika manusia mencari keaslian, suatu yang tidak bercampur dan murni, maka akan kecewa. Tidak ada yang murni karena tradisi masyarakat selalu berhubungan dengan masyarakat lain, baik sebelumnya, sezaman, atau yang akan mewarisi dan mengubah sesudahnya.”
(Al-Makin)
Perbedaan merupakan kehendak Tuhan yang telah ditetapkan sejak azali. Suatu yang niscaya terjadi di dunia ini. Upaya penyeragaman adalah sia-sia. Toleransi, keterbukaan dan penyelarasan adalah jalan satu-satunya eksistensi suatu peradaban.

Al Makin, M.A., Ph. D. dalam bukunya Keragaman Dan Perbedaan: Budaya dan Agama Dalam Lintas Sejarah Manusia, menekankan dengan tegas tentang bagaimana manusia harus menyikapi  kergaman dan perbedaan. Upaya penyeragaman kultur dan tradisi hanyalah upaya yang sia-sia belaka. Seperti bom waktu yang tinggal menunggu meledaknya dan hancurnya suatu kebudayaan.

Buku ini menjelaskan dengan gamblang bagaimana budaya dan agama dalam lintas sejarah manusia secara objektif dan tidak hanya memakai salah satu prespektif agama dan budaya saja, namun dengan prespektif seorang ilmuan yang cermat dan objektif dalam menggali dan mengupas sejarah-sejarah peradaban dalam lintas sejarah manusia; Multi dimensional approaches. Diterangkan bagaimana budaya itu lahir dan berkembang dalam sejarah manusia. Dimulai dari pengakuan akan Keterbatasan Ingatan Masa Lalu (Bab 1), dimana manusia dengan memorinya yang terbatas mecoba merekonstruksi masa lalu untuk dinarasikan kembali melalui catatan-catatan masa lalu yang masih tersisa seperti tulisan pada tablet batu, artefak dan patung-patung yang berisi informasi-informasi masa lalu.

Dunia mulanya hamparan luas yang berisi berbagai masyarakat dengan kebudayaan yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Mereka masing-masing telah membangun kebudayaannya masing-masing; kepercayaan, ritual, lengkap dengan pemuka dan kitabnya. Tentu dengan latar belakang , letak geografis, cuaca, iklim dll. yang mempengaruhi pola pikir mereka; bagaimana mereka mulai merefleksikan dunia dengan mulai menarasikan awal penciptaan dunia, manusia, tuhan dan dewa, dan kehidupan setelah dunia ini (Eskatologi). Tentunya masing-masing budaya mempunyai narasi teologis-nya sendiri-sendiri.

Al Makin menjelaskan bahwa dari sekian banyaknya budaya yang tersebar pada 20.000 tahun SM itu ternyata masing-masing mamiliki pola dan struktur yang sama. Disini ia menampilkan teori antropolog Levi’s Strauss, “bahwa perbedaan narasi dan konstruksi dari sekian juta budaya yang tersebar di duinia, pada dasarnya memiliki struktur dan pola yang sama, sama seperti bahasa namun lebih kompleks kebudayaan, seperti tuhan atau dewa, penciptaan manusia pertama dan eskatologi. Setiap kebudayaan memiliki kesamaan pola dan struktur pemikiran. Al makin juga menambahkan, “itu tergantung bagaimana menjelaskannya”.

Bedah Buku Al Makin di UIN Yogyakarta

Dalam bab 2, Kisah Manusia Pertama dijelaskan secara garis besar, bagaimana dan seperti apa narasi kebudayaan-kebudayaan kuno meyakini kisah manusia-manusia pertama, lalu dibandingkan satu sama lain dari setiap kebudayaan tersebut. Juga Persepsi Tentang Dunia, (Bab 3); tentang bagaimana luasnya dunia, usia dunia dan usia manusia. Semuanya memiliki pola dan struktur yang sama.

Islam sebagai agama Semit termuda, bukan lahir dari masyarakat dan tradisi yang homogen, juga bukan dari ruang yang kososng, namun dari masyarakat HIjaz yang telah kosmopolitan. Islam adalah penerus ajaran Yahudi dan Kristen (Nasrani); universalisasi atau penyelarasan budaya baru atas budaya lama. Konsep tauhid telah ada sejak Yahudi, (walaupun jauh sebelum Yahudi juga ada namun tidak bertahan; di Mesir) namun konsep monotheis atau tauhid tersebut hilang kemurnianya karena dalam agama Yahudi, Tuhan yang satu tersebut, Yahwe, hanya diperuntukan untuk bangsa Israel saja. Kemudian Nasrani (Kristen) mencoba meng-universalisasikan tauhid tersebut kepada bangsa-bangsa non-Israel.  Namun 2 abad kemudian setelah Yesus meninggal, keyakinan tauhid tersebut tidak murni lagi karena melalui rapat konsili di Vatikan, ditetapkan Trinitas. Abad 7 adalah kelahiran Islam di Hijaz, yang mana misi dakwah tauhid  lil ‘alamin bertahan hingga sekarang.

Mengenai kitab suci, selain al-Quran dan perjanjian lama yang satu alur, ada pula kitab yang membahas perjalanan Gilgamesh yang bertemu Utnapishti yang pernah melewati  banjir bandang hebat. Sama seperti kisah nabi Nuh dalam Islam dan Noah dalam Kristen, dijelaskan pula didalamnya kisah-kisah yang boleh dikatakan mirip bahkan sama. Hanya nama saja yang membedakan. Kitab (tablet) Gilagamesh tersebut sudah ada di Mesopotamia (Sumeria dan Babilonia). Ribuan tahun sebelum Yahudi, pemula agama Semit lahir.

Pada masa itu, Hindu-Budha pun telah memulai peradaban dan narasi kebudayaannya sendiri dengan kisah-kisah Epic seperti Mahabarata. Semitik dan India sezaman, jauh sebelum itu, 2000 SM, Mesopotamia (Sumeria dan Babilonia) telah memulai kebudayaannya. Tak lupa Mesir dengan tanah lumpur nya yang subur, juga telah memulai narasi teologisnya yang politheis.

Dijelaskan pula tentang kota-kota metropolitan meramu kebudayaannya yang berakomodasi dengan budaya-budaya lain melalui ekspor-impor barang. Dari sanalah terjadi akulturasi; perpaduan berbagai budaya melaui interaksi dan dialog kultural yang menjadi bibit-bibt kebudayaan baru. Selanjutnya budaya baru tersebut meneruskan budaya lama dengan konstekstualisasi tanpa menghilangkan unsur-unsur budaya lama.Mesopotamia, Damaskus, Baghdad, India, China, HIjaz (Arab), Nusantara, metropolit dan kosmpolitnya dijelaskan dalam Bab 5, Kota-Kota Metropolitan.

Tak lupa, peradaban pelatak dasar ilmu pengtahuan, Yunani, juga turut serta mewarnai keragaman dan perbedaan kebudayaan dan agama dalama lintas sejarah manusia. Dalam proyek Hellenisme, tradisi Yunani memulai golabalisasinya menuju tradisi Semitik, Yunani, Kristen, hingga Islam, yang dimotori oleh Alexander the Great. Tradisi berfikir ala Yunani yang direpresentasikan oleh filsuf sentral, Plato dan Aristoteles mempengaruhi pola pikir dan sikap keagamaan di berbagai budaya. Kontoversialnya dalam Islam pada masa Al-Ghazali dengan Tahafut al-Falasifa-nya, sampai pada ilmuan-ilmuan, filsuf dan agamawan yang kemudain berupaya memadukan tradisi iman dan fikir (Bab 6).

Buku Keragaman Dan Perbedaan ditutup dengan bab Ke-Indonesiaan (Bab 7). Al Makin menjelaskan dengan rinci bagaimana Nusantara dulu pada abad 8 telah mulai membangun peradabannya dengan bernafaskan Hindu-Budha. Diterangkan juga kisah-kisah Epic kuno Nusantara dan dinasti-dinastinya.

Sebelum kedatangan Hindu-Budha, Nusantra pun punya kisahnya sendiri, hingga akhirnya akulturasi mau tidak mau terjadi melalui perdagangan dan perkawinan. Baru setelah hadirnya bangsa Barat pada abad 18 dengan Kolonilisme-nya, yang dengan kata lain penjajahan, menyuntikkan tradisi Baratnya dalam budaya politik, sosial, pendidikan dan agama lewat misi kristennya (3G).

Beberapa abad sebelum Barat, islam telah memulai misi dakwahnya secara sinkretis dengan budaya-budaya yang telah mengakar di Nusantara.  Nusantara dan Indonesia adalah satu dari berjuta cerita keragaman kebudayaan yang hidup. Kurangnya akses menyebabkan antar budaya tak kenal satu sama lain pada masa kuno. Globalisasi mini  bermula pada masa Alexander (1000 SM), disusul Romawi (10 SM) dan Islam (7-11 SM), hingga kini teknologi internet yang masih sangat muda kira-kira dua dekade adalah penyalur utama antar budaya, peradaban dan Negara.

Dahulu masing-masing bangsa hanya megurus bangsanya sendiri dan tidak tahu mengenai kehidupan dan seluk beluk bangsa lain. Berbeda dengan era sekarang (abad 21), dimana kondisi Negara adi daya mampu mempengaruhi bahkan mengatur aktifitas ekonomi, sosial, pendidikan, gaya hidup dan budaya Negara lain.

Itulah keragaman, suatu yang niscaya memiliki potensi dan keindahan. Bukanlah suatu kelemahan. Keterbukaan adalah cara menyikapinya. Buku ini, sekali lagi meletakan iman dan teologi dalam lintas sejarah manusia, bukan sejarah manusia berdasarkan iman dan teologi. Kayanya sumber dan referensi menjadikan buku ini bukan sembarang buku.


REFAN ADITYA, anggota LITBANG LAPMI Sinergi Yogyakarta.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: