Sabtu, 02 Desember 2017

Sekolah Perkaderan : Upaya Menjadikan HMI Cabang Yogyakarta Sebagai Kiblat Perkaderan



Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta mengadakan Sekolah Perkaderan. Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 1-2 Desember 2017 tersebut diadakan di Gedung Pusat Kebudayaan Lafran Pane, Jalan Sidikan no 71, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta. Jumlah peserta yang didelegasikan oleh masing-masing komiariat kepada bidang Pembinaan Anggota (PA) HMI Cabang Yogyakarta sebanyak 50 orang. Tetapi peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut hanya 37 orang.

Sekolah Perkaderan kali ini merupakan suatu usaha untuk menjadikan HMI Cabang Yogyakarta sebagai kiblat perkaderan secara nasional. Karena berangkat dari sejarah bahwa HMI Cabang Yogyakarta merupakan cabang pertama di Indonesia. Selain itu, ketua umum pertamanya ialah Lafran Pane yang merupakan pemrakarsa berdirinya HMI. Jika perkaderan HMI cabang Yogyakarta baik, maka secara otomatis cabang-cabang lain di seluruh Indonesia akan berkiblat kepada HMI cabang Yogyakarta.

“Caranya nanti melalui peningkatan kualitas kader, salah satunya ialah Sekolah Perkaderan,” jelas Elvi Suharni, Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta.

Mengenai kualitas perkaderan di HMI Cabang Yogyakarta saat ini, Elvi sendiri melihatnya masih ideal. Buktinya ketika HMI Cabang Yogyakarta mengadakan Latihan Kader II, Latihan Khusus Kohati maupun Senior Course, kegiatan itu masih menjadi primadona bagi cabang-cabang yang lain. Selain itu, instruktur-instruktur yang dimiliki oleh HMI Cabang Yogyakarta sudah berkompeten.

“Tetapi itu belum cukup untuk menjadikannya sebagai kiblat perkaderan,” sambungnya.

Lebih lanjut, Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta periode 2017-2018 tersebut mengungkapkan bahwa dulu pernah diadakan semiloka perkaderan di HMI Cabang Yogyakarta, tetapi mengenai Sekolah Perkaderan, dia mengaku tidak tahu pasti pernah diadakan atau tidak.

“Sekolah Perkaderan ini merupakan suatu perubahan untuk menjadikan HMI Cabang Yogyakarta sebagai kiblat perkaderan,” tutupnya.

Sekolah Perkaderan kali ini diselenggarakan oleh bidang PA HMI Cabang Yogyakarta. Dengan jumlah personil sebanyak tiga orang, mereka membagi kerja menjadi satu SC dan dua OC sebagai ketua panitia dan sekretaris panitia. Bidang PA juga meminta delegasi panitia tambahan dari komisariat-komisariat untuk membantu menjalankan kegiatan Sekolah Perkaderan. Sehingga kepanitiaan berjumlah delapan orang.

“Panitia tambahan diambil dari komiariat yang mewakili bidang PA yaitu Saintek, Fishum dan Tarbiyah,” jelas Masykur Habibi selaku Steering Comitte.

Adapun alasan diadakannya Sekolah Perkaderan ini ialah karena bidang Penelitian, Pengembangan dan Pembinaan Anggota (PPPA) masing-masing komisariat yang ada di HMI Cabang Yogyakarta belum memahami secara mendalam bagaimana caranya menyelenggarakan Latihan Kader I, Follow Up, dan pedoman perkaderan yang lainnya. Meskipun bisa saja diadakan seminar dan lokakarya perkaderan ataupun sosialisasi ke masing-masing komisariat,  tetapi itu sifatnya dari atas ke bawah (dari cabang ke komisariat), bukan diskusi bersama-sama. Sekolah Perkaderan dapat mengakomodir seminar dan sosialisasi, di sekolah perkaderan menggunakan pemateri dan dan Master Of Training (MOT). Selain itu, disana juga terdapat sosialisasi tentang Standar Operasional Prosedur (SOP) Latihan Kader 1 yang telah dirumuskan oleh bidang PA HMI Cabang Yogyakarta dan telah diketahui dan disahkan oleh Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI Cabang Yogyakarta. Pedoman perkaderan dan SOP LK I tersebut kemudian didiskusikan di dalam Sekolah Perkaderan. Dengan begitu, unsur yang ada di dalam Sekolah Perkaderan ialah BPL, Bidang PA Cabang dan disepakati oleh seluruh Bidang PPPA Komisariat.

“Jadi legal formalnya semakin kuat. Sifatnya tidak instruktif saja tetapi memang ini murni dari seluruh elemen HMI Cabang Yogyakarta,” lanjut Habibi.

Materi yang diberikan di dalam Sekolah Perkaderan ini terdiri dari landasan perkaderan dan jenjang training yang terdapat didalam pedoman perkaderan. Landasan perkaderan diangkat sebagai materi karena banyak pengurus-pengurus yang lupa bahkan ada juga yang belum membacanya. Sehingga landasan mereka dalam melaksanakan perkaderan di HMI Cabang Yogyakarta seperti LK I, follow up dan lain sebagainya bukan dari pedoman perkaderan, tetapi tradisi-tradisi sebelumnya. Sedangkan arah dan jenjang perkaderan dimaksud untuk memotivasi peserta untuk melanjutkan perkaderan ke jenjang selanjutnya, bukan hanya LK I, LK II dan LK III, tetapi seluruh jenjang perkaderan agar tujuan HMI dapat tercapai.

Selain pedoman perkaderan, Sekolah Perkaderan juga membahas konsep maperca dan follow up. Karena beberapa pengurus masih bingung ketika mengadakan folow up. Seringkali follow up hanya mengulang-ulang materi yang telah disampaikan pada LK 1.

“Itu bukan follow up, tapi remidi,” tambah Habibi.

Sekolah Perkaderan juga mendiskusikan tentang Standar Operasional Prosedur (SOP) LK 1. SOP tersebut membahas mekanisme ketika akan mengadakan LK 1, dimulai dari pra LK, LK, hingga pasca LK. Sehingga seluruh komisariat di bawah naungan HMI Cabang Yogyakarta menjadi tertib, seragam dan terstandardisasi.


Seluruh materi-materi yang dibahas dalam Pedoman Perkaderan  ini kemudian dibakukan menjadi sebuah buku saku. Buku saku tersebut menjadi sistem perkaderan di HMI Cabang Yogyakarta.

Reporter             : Koi
Redaktur Online : Qodri
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: