Jumat, 15 Desember 2017

Merajut Islam di Zaman Now

Cover Buku Islam Sontoloyo: Pikiran-Pikiran Progresif Pemikiran Islam. Foto: Internet

Judul Buku      : Islam Sontoloyo
Penulis             : Ir. Soekarno
Editor              : RN. Fajri
Penerbit           : Basabasi
Tahun Terbit    : Oktober 2017
ISBN               : 978-602-6651-48-8
Peresensi         : Achmad Faridatul Akbar*

Sudah seharusnya kita mempunyai pikiran yang progres, pikiran yang cemerlang, supaya tak terkesan ambigu dalam menyelamatkan banyak orang. Begitu juga dengan Agama Islam, pikiran kita harus baru untuk mengembangkan nilai-nilai luhur di dalamnya.
Buku ini merupakan arsip tulisan Presiden Ir. Soekarno berisi tentang pikiran-pikiran Islam progresif, yang sampai saat ini masih relevan sebagai telaah kembali atas marwah pemeluk Islam yang seringkali mengkafirkan sesuatu atau istilah beliau Islamnya Sontoloyo.
Bung Karno selain sebagai Presiden Pertama dan Bapak Proklamator Indonesia, beliau juga pelopor pemikir pembaruan. Buku Islam Sontoloyo merupakan salah satu buku yang berisi pemikiran Bung Karno. Buku ini merupakan kumpulan artikel yang di tulis Bung Karno di majalah Panji Islam. Mengapa harus berjudul Islam Sontoloyo? Ada apakah dengan Islam pada masa itu? Bung Karno menuliskan artikel-artikel tersebut sebagai bentuk kritik terhadap penyelewengan pada masanya yang menodai jiwa Islam.
Buku ini tidak ada maksud untuk menilai Islam tidak benar, akan tetapi melalui wacana Ir. Soekarno yang progres dan pembaharu mencoba merajut pemahaman Islam yang sesungguhnya. Dalam kutipan Soekarno terhadap Agama, mengistilahkan dari perkataan Heraclitus, bahwa pokok tidak berubah, Agama tidak berubah, Islam sejati tidak berubah, firman Allah dan Sunnah Nabi tidak berubah, tetapi pengertian manusia tentang hal-hal inilah yang berubah (hal.81).
Maka untuk meremajakan pegertian Islam dan merajutnya di zaman now, kita mencoba memahami kembali apa yang menjadi penekanan beliau tentang rethingking of islam. Marilah kita memerdekakan kita punya ruh, kita punya akal dan kita punya pengetahuan dari ikatan-ikatannya kejumudan. Hanya dengan ruh, akal, dan pengetahuan yang merdekalah kita bisa mengerjakan penyelidikan kembali, her-orientatie, zelf-correcctie yang sempurna (hal. 88). Jelas demikian bahwa memang kita harus merdeka dari segala kita punya akal, dan pengetahuan.
Wajah zaman saat ini sudah mirip dengan yang terjadi pada masa lampau. Beda zaman, tetapi kekolotan pikiran kita yang seringkali mengkafirkan orang lain, menyalahkan orang lain dengan anggapannya sendiri yang dangkal akan nilai-nilai keislaman tak kunjung surut. Hal yang paling mendasar yang harus kita cermati adalah bagaimana Islam tidak hanya dijadikan sebagai Agama, tetapi pondasi yang harus di now kan. Islam mencerminkan untuk tidak menolak adanya perubahan, juga tidak hanya mengajarkan bagaimana beribadah saja. Tetapi Islam akan maju jika pemahaman kita berada di posisi zaman saat ini. Untuk itulah kita bisa membuang cara lama, dengan mengambil cara baru.
Zaman now mengingatkan kita pada apa yang dirisaukan Ir. Soekarno dalam pidato dan surat-suratnya, bahwa “Ummat Islam terlalu menganggap fiqh itu satu-satunya tiang keagamaan. Kita lupa, atau tidak mau tahu, bahwa tiang keagamaan ialah terutama sekali di dalam ketundukan kita punya jiwa kepada Allah” (hal. 7)
Meski banyak orang yang berpendapat bahwa Soekarno adalah orang yang terlalu dinamis. Perkataan itu dibalasnya dengan doa “Ya Allah Ya Rabbi, tambahkanlah lagi kedinamisan itu.” Inilah menjadi dorongan untuk meng-kritisi pandangan-pandangan kolot para pemuka agama saat itu, yang tidak ingin menerima modernisasi. Ia juga membagi pendapatnya mengenai “Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara” dan “Transfusi Darah”. Soekarno membenarkan perkataan Halide Edib Hanum bahwa Islam di zaman akhir-akhir ini bukan lagi agama pemimpin hidup, tetapi agama pokrol-bambu”.
Membaca buku ini, seperti kita meremajakan Islam di zaman now. Janganlah kita kira kita sudah mukmin, tetapi hendaklah kita insaf, bahwa banyak di kalangan kita yang Islamnya masih Islam Sontoloyo!
Karena Agama adalah bagi orang-orang yang berakal, maka gunakanlah akal semerdeka-merdekanya. Bacalah.

*Ach. Faridatul Akbar lahir 1995 di Kerta Timur Dasuk Sumenep Madura. Mahasiswa Universitas Janabadra, Ekonomi Pembangunan. Kini Aktif di Komunitas KUTUB Yogyakarta, dan LAPMI Sinergi Yogyakarta.
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: